ENGLISH, INSPIRING

20 Fakta Unik Mengenai Bahasa Inggris

Bahasa Inggris adalah bahasa universal yang digunakan di hampir seluruh belahan dunia. Kita menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari negara yang memiliki bahasa yang berbeda. Bahasa ini adalah bahasa yang unik. Selain menjadi bahasa pertama yang digunakan di bulan, masih banyak lagi keunikan bahasa ini. Yuk kita lihat sama-sama apa saja keunikan bahasa Inggris.

  • “Go!” adalah kalimat terpendek yang benar tata bahasanya dalam bahasa Inggris. Kalimat terpendek kedua adalah “I am.”
  • 11% dari bahasa Inggris adalah huruf ‘e’.
  • Kebalikannya, huruf ‘q’ adalah huruf yang paling jarang digunakan di dalam bahasa Inggris.
  • Terdapat banyak kata dalam bahasa Inggris yang diawali huruf ‘s’.
  • Kata terpendek, tertua, dan yang paling sering digunakan adalah ‘I’.

  • Jika kamu menulis angka dalam bahasa Inggris (one, two, three, …), tidak ada huruf ‘a’ dari angka 1-999, dan tidak ada huruf ‘b’ dari angka 1-999.000.000.
  • Jika kamu menulis kata ‘swims’ di sebuah kertas dan memutar kertas itu 180 derajat, kamu akan tetap bisa membaca kata ‘swims’. Fenomena ini disebut ambigram.
  • Pernahkah kalian membaca kalimat ‘the quick, brown fox jumps over the lazy dog’? Apakah kalian tahu jika di kalimat ini terdapat huruf A-Z? Kalimat seperti ini disebut pangram.
  • Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis adalah kata bahasa Inggris yang terpanjang. Kata ini berarti penyakit paru-paru yang disebabkan karena menghirup abu dan debu pasir. Apa kalian bisa membaca kata ini dalam satu nafas?

  • Ada sebuah kata di dalam kamus bahasa Inggris di tahun 1932-1940 yang tidak memiliki arti. Kata ini adalah ‘dord’ dan sering disebut sebagai ‘ghost word’ atau kata hantu. Hal ini disebabkan karena kesalahan pencetakan.
  • Kata sifat yang paling sering digunakan adalah ‘good’.
  • Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi di udara. Darimanapun pilot itu berasal, mereka harus menggunakan bahasa Inggris dalam penerbangan internasional.
  • Kalimat tongue twister yang paling sulit diucapkan adalah ‘sixth sick sheik’s sixth sheep’s sick.’ Coba praktekkan dengan teman sambil melatih bahasa Inggris kalian!
  • Queue’ adalah satu-satunya kata yang memiliki 4 huruf vokal yang berurutan dan pengucapannya akan tetap sama walaupun semua huruf vokalnya dihilangkan.
  • Ada satu kata yang ditambahkan ke dalam bahasa Inggris setiap dua jam dan sekitar 4,000 kata baru ditambahkan ke kamus bahasa Inggris setiap tahunnya.
  • Kata ‘happy’ digunakan tiga kali lebih sering daripada kata ‘sad’.
  • Kata ‘lol’ ditambahkan ke dalam kamus Oxford di tahun 2011.
  • Kata ‘selfie’ dinobatkan sebagai Word of the Year di tahun 2013 oleh Oxford Dictionary karena penggunaannya yang meningkat sebanyak 17,000% dari tahun 2012.
  • 1 dari 6 orang di dunia mengetahui atau berbicara bahasa Inggris.
  • Banyak kata dalam bahasa Inggris diciptakan oleh Shakespeare seperti addiction, advertising, birthplace, blanket, eyeball, fashionable, gossip, lonely, luggage, skim milk, dan masih banyak lagi

source : http://www.englishcafe.co.id/20-fakta-unik-mengenai-bahasa-inggris/

Iklan
ENGLISH, INSPIRING, PROGRAM, Tak Berkategori

The History of “ENGLISH VILLAGE”

552fbce30423bdf85d8b4567

Di Desa Pelem dan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur saat ini tersebar ratusan lembaga kursus bahasa asing. Di antaranya yang paling dominan adalah lembaga kursus bahasa inggris. Lalu, bagaimana awal mula terbentuknya komplek itu?

Dari penelusuran yang dilakukan, pemicu awal terbentuknya komunitas tersebut ternyata amat sederhana dan merupakan hasil kerja keras yang dilakukan oleh satu orang saja, yaitu seseorang yang bernama Kalend Osen.

Kalend Osen yang ditemui di rumahnya, Jalan Anyelir, Singgahan, Pelem, Pare, Rabu (9/5/2012), menuturkan dengan singkat perjalanan kariernya hingga tercipta maha karya yang spektakuler ini.

Pria kelahiran 4 Pebruari 1945 ini tampak sederhana namun begitu bersahaja. Bermula pada tahun 1976 silam, Kalend Osen adalah seorang santri asal Kutai Kartanegara yang tengah menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menginjak kelas lima, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tidak kuat menanggung biaya pendidikan. Bahkan, keinginannya pulang kembali ke kampungnya gagal karena tiada biaya.

Dalam situasinya yang sulit itu seorang temannya memberitahukan adanya seorang ustaz yang bernama KH Ahmad Yazid di Pare yang menguasai delapan bahasa asing. Kalend muda kemudian berniat berguru dengan harapan minimal dapat menguasai satu atau dua bahasa asing darinya. Ia lalu mulai tinggal dan belajar di Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, milik Ustaz Yazid.

Dalam sebuah kesempatan, datang dua orang tamu mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Kedatangan dua mahasiswa itu untuk belajar bahasa Inggris kepada Ustaz Yazid sebagai persiapannya menghadapi ujian negara yang akan dihelat dua pekan lagi di kampusnya.

Kebetulan saat itu Ustaz Yazid tengah bepergian ke Majalengka dalam suatu urusan sehingga kedua mahasiswa itu hanya ditemui oleh ibu Nyai Ustaz Yazid. Entah dengan alasan apa, oleh Nyai Ustaz Yazid, kedua mahasiswa itu diarahkan untuk belajar kepada Kalend yang baru saja nyantri.

“Waktu itu saya sedang menyapu masjid dan dua mahasiwa itu menghampiri saya,” kenang Kalend mengingat masa lalunya.

Dua mahasiswa itu kemudian menyodorkan beberapa lembaran kertas yang berisi 350 soal berbahasa inggris. Setengah ingin tahu, Kalend memeriksa soal-soal itu dan kemudian meyakini dapat mengerjakannya lebih dari 60 persen. Kalend menyanggupi permintaan itu dan mereka akhirnya terlibat proses belajar mengajar yang dilakukan di serambi masjid area pesantren. Pembelajarannya cukup singkat, dilakukan secara intensif selama lima hari saja.

“Tak disangka, sebulan kemudian mereka (dua mahasiswa) kembali dan mengabarkan telah lulus ujian. Betapa bahagianya saya waktu itu, ” kata kakek yang saat ditemui tengah mengenakan sarung, atasan hem biru kotak-kotak serta peci hitam ini.

Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Surabaya dan banyak dari mereka akhirnya mengikuti jejak seniornya dengan belajar kepada Kalend. Promosi dari mulut ke mulut pun akhirnya menjadi awal terbentuknya kelas pertama.

Sejak saat itu, pada 15 Juni 1977 di desa setempat, Kalend mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) dengan enam siswa pada kelas perdana. Para siswa tersebut terus dibina dan dididik tidak hanya kemampuan bahasa inggris, namun juga ilmu agama serta kecakapan akhlak.

Selama hampir sepuluh tahun Kalend berjuang sendirian untuk menghidupkan lembaga kursusnya itu dan dengan segala rintangannya dia berhasil melakukannya dengan baik. Pada tahun 1990-an, banyak alumninya yang didorong untuk membuat lembaga kursus untuk menampung pelajar yang tidak mendapat kuota akibat membeludaknya pelajar di BEC.

“Saya mempunyai prinsip, jikalau kita berkarya, selain dapat dinikmati sendiri, karya itu juga tidak merugikan orang lain,” tutur kakek rendah hati ini.

Lambat laun lembaga kursusnya semakin bertambah jumlahnya. Namun demikian kesemuanya mampu berjalan seirama tanpa adanya kompetisi negatif. Para pendiri lembaga kursus itu rata-rata mempunyai ikatan sejarah yang sama, yaitu sama-sama dari satu guru.

Eksistensi BEC hingga kini juga tetap terjaga. Bahkan di tahun 2011 lalu telah genap meluluskan alumni sebanyak 18.000 siswa dari berbagai penjuru nusantara. Dalam meluluskan siswa, BEC dikenal sangat ketat.

Nur Akhlis, salah satu mantan murid Kalend yang sukses membuka lembaga kursus sendiri dan dinamainya Effective English Conversation Course (EECC) di Jalan Falamboyan, Desa Tulungrejo juga membagikan ceritanya.

“Saya dulunya murid dari Pak Kalend, dan pernah diamanatkan untuk memegang kelas. Kami memang didorong untuk mandiri dan berkarya sehingga Alhamdulillah saya sekarang menjadi seperti ini,” kata Nur Akhlis.

Adanya dorongan itu, guru yang juga pengurus forum pengelola kursus ini menambahkan, membuat perkembangan kampung menjadi dinamis dan saat ini ada lebih dari 114 lembaga kursus. “Mulai sekitar tahun 2000-an, para investor dari luar kota juga mulai melirik potensi yang ada dengan turut mendirikan lembaga kursus,” kata Nur Akhlis.

Penulis: M Agus Fauzul Hakim
Editor: Hertanto Soebijoto

http://regional.kompas.com/read/2012/05/13/1701100/Inilah.Awal.Mula.Berdirinya.Kampung.Inggris.